Abu

Jendelaku terbuka.
Memanggilku tuk melamun.
Sesuatu di luar sana memercikan api.
Api yang sudah lelah berkobar.
Api yang sudah lelah menyala terang.
Sekarang abunya beterbangan.
Kutahu satu hal; aku menghirup racun.
Abu itu bekas kenangan kita.
Yang sudah beracun tiada ampun.
Namun, sekarang merajai udaraku.
Ke mana udara segarku?
Katamu, jangan damba ia.
Ia selalu ada di sekeliling kita.
Jadi aku berpikir; aku menghirup udara segar hanya saat di sampingmu? Atau kau malah ingin aku terus menghirupnya?

Jendelaku terbuka.
Membunuh lamunanku,
di luar ada sesuatu.
Sepotong masa lalu menunggu untuk kumusnah.
Sepotong masa lalu menunggu untuk kukenang.
Sekarang potongannya hancur berkeping-keping.
Kutahu satu hal; aku tidakkan pernah bisa menyusunnya kembali.
Sepotong masa lalu itu pahit untuk kita.
Yang kadang kala menjamah sudut pikir.
Namun, sekarang tinggal diam di kepalaku.
Ke mana kepingannya?
Katamu, jangan cari ia.
Ia selalu berhasil utuh kembali.
Jadi aku berpikir; kau bahagia jika benda itu tinggal diam di kepalaku? Atau kau senang karena selalu kukenang?

Jendelaku tertutup sekarang.
Dentumannya membekas hati,
di luar ada sesuatu.
Segenggam abu tak terjamah.
Segenggam abu enggan terbang jauh.
Abunya mencari pintu yang sudah kumusnah.
Kutahu satu hal; kuharus terbangkan jauh abunya.
Abu dari sisa kesombongan kita di masa lalu.
Yang kadang kala menodai gaun indahku.
Namun, sekarang melumuri tubuhku.
Ke mana abu harus terbang jauh?
Katamu, jangan sampai abunya terbang seperti debu.
Ia selalu hinggap di salah tempat.
Jadi aku berpikir; aku harus melindungi diri, takut jika dihinggapnya. Atau kau sengaja agar aku terbungkus olehnya?

Sekarang tulisanku selesai.
Namun, kata-kataku belum.
Akan kusimpan mereka.
Takut-takut jika nanti hatiku hancur lagi.
Takut-takut jika nanti puisiku mati suri.
Kutahu satu hal; kau pikir kehancuranku adalah mahakaryamu.
Padahal, kehancuranku adalah mahakaryaku sendiri.


Queen Oktaviani

queen

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar