Kotak Musik untuk Syl (cerpen)


Syl adalah gadis berusia enam belas dengan rambut tembaga panjangnya. Ia selalu pergi ke sekolah dengan kepang dua. Baginya itu sempurna, ia akan terlihat rapi, terlebih lagi jika ia sedang bermain piano atau biola. Syl suka musik.

Sayangnya tak semua orang baik, mempunyai nasib yang baik. Syl kehilangan Ayahnya di bangku Sekolah Dasar. Syl tak pernah kenal sosok Ayah lebih dalam tetapi Syl dapat bermain biola karena Ayah yang mengajarkannya.

Syl tidak pernah suka dengan Ibu tirinya, baginya, hanya ada satu sosok Ibu, yaitu Ibu kandung Syl. Ibu tirinya selalu mencoba mendapat perhatian dari Syl tapi Syl masih mengelak keberadaannya. Syl memanggilnya Ibu Ladira. Ibu Ladira selalu membawakan Syl sarapan bergizi namun Syl tak pernah menghabiskannya. Ibu Ladira selalu bilang, jika rambut Syl sudah tidak pantas untuk dikepang karena sekarang Syl sudah kelas tiga Sekolah Menengah Atas. Syl tetap tidak mendengarkan, Syl selalu mendengar sosok Ibu yang selalu memujinya jika ia dikepang dua.

"Ibu Ladira, tidak usah repot memasak. Syl makan di rumah Jojo," kata Syl sebelum berangkat sekolah. Ia menopang gitarnya lalu berangkat. Syl selalu mengucapkan itu sebelum berangkat, tidak ingin Ibu Ladira memasak apa pun, kadang Syl makan di rumah Jojo atau di rumah makan terdekat. Ibu Ladira dirajai sendu.

Ibu Ladira selalu terisak tengah malam. Mengeluh karena takdirnya seperti ini, Ibu Ladira sudah tercebur, ia tak mau meninggalkan Syl. Karena mereka hanya mempunyai diri mereka masing-masing sekarang. Tapi Ibu Ladira tak yakin jika Syl bahkan menganggapnya ada.

"Jika Syl ingin Ibu Ladira pergi, Ibu akan pergi," ancam Ibu Ladira bercucur air mata.

"Lalu Ibu Ladira mau ke mana?"

Ibu Ladira sebatang kara di Jakarta. Oh Tuhan, betapa malangnya Ibu Ladira.

Sebenarnya Syl hanya buta oleh rasa kehilangan. Ia masih belum menerima jika kedua orangtuanya telah pergi. Ibu Ladira paham kondisi Syl.

Ibu Ladira mengirim Syl hadiah cantik di ulang tahunnya yang ke lima belas. Tapi Syl menolaknya. Ia bilang, "Yah! Syl kira itu kotak musik yang harganya mahal, seperti yang pernah Ibu janjikan pada Syl. Ibu kandungku, bukan dirimu."

Padahal itu kalung cantik berinisial S. Ibu Ladira membelinya sewaktu ia dapat hadiah undian ke Beijing. Tetap tidak berharga di mata Syl. Ibu Ladira belum punya uang untuk membeli kotak musik itu.

Syl pulang larut malam sekali, alasannya, masakan di rumah Jojo telat matang. Ibu Ladira hanya tersenyum. "Syl, Ibu mau memberitahumu sesuatu."

Syl mengangkat sebelah alisnya. "Apa?" Syl mengendus kelelahan. "Besok saja ya, Ibu Ladira. Syl lelah sekali, ingin tidur."

Ternyata Syl malah berlatih piano di kamarnya. Ibu Ladira mengerti sekali. Ia juga tak ingin mengganggu Syl. Mungkin Syl sedang ada acara di sekolah.

Ibu Ladira lelah, namun ia tak ingin Syl tahu. Syl benar, Ibu Ladira memang sebatang kara, Ibu Ladira tak tahu harus pergi ke mana. Rumah ini peninggalan satu-satunya dari suaminya, bisnis suaminya pun sudah tak dapat dilanjutkan. Syl mempunyai kelebihan di musik, bukan manajemen dan bisnis. Tentu saja ia takkan mau melanjutkan bisnis Ayahnya.

Hidup mereka bergantung pada uang yang selalu diberikan oleh saham milik keluarga Syl.

Ibu Ladira ingin memberitahu Syl jika ia mendapat kerja di salah satu kedai kopi, karena Ibu Ladira sudah lama sekali berdiam diri di rumah, meratapi nasib. Syl tidak ingin tahu sepertinya, jadi Ibu Ladira memutuskan untuk tidak memberitahunya saja.

Ketuk pelan menyambut Syl di kamarnya. Memberhentikan Syl bermain piano, Ibu Ladira membawakan segelas susu dan biskuit panas dari oven yang baru saja dibuatnya. Tetapi Ibu Ladira tidak mendapat balasan baik.

"Syl sudah tidak mau Ibu Ladira mengganggu Syl terus. Jika masih ingin di sini, ya jangan ganggu Syl," kata Syl terganggu. Ia memeluk kertas-kertas nadanya, menyudahi kegiatannya dan bergelung di kasur.


Ibu Ladira hampir meneteskan air mata. Ia menahannya, Syl tidak boleh melihat Ibu Ladira menangis, Ibu Ladira harus mencerminkan ketegaran untuknya. "Ibu Ladira takkan lagi mengganggu Syl. Tapi Ibu Ladira hanya ingin Syl minum susu karena tadi pagi kau lupa meminum susumu, Syl. Ibu juga buatkan kue kesukaanmu," kata Ibu Ladira.

Lantas itulah yang dilakukan Ibu Ladira, tak banyak bicara jika tak perlu, Syl juga kelihatannya malah senang. Lebih banyak waktu di kamar. Kapan Syl menganggap Ibu Ladira sebagai Ibu tirinya? Pikiran itu selalu menggerayangi kepala Ibu Ladira. Ibu Ladira terisak di kamarnya, memikirkan berbagai ratusan jalan keluar agar Syl mau menganggapnya sebagai Ibu. Ibu tirinya.

Sekolah Syl akan mengadakan pentas seni, Syl tentu saja akan menunjukkan bakatnya, yaitu bermain piano sembari bernyanyi. Ibu Ladira semangat melihatnya, tapi Syl tak mendamba kehadirannya. Oh malangnya.

Malam ini saat pertunjukkan, rambut Syl tidak dikepang dua, rambutnya dibiarkan terurai, Ibu Ladira tak berhenti memujinya cantik hingga Syl membentaknya.

Ibu Ladira menangis lagi di kamarnya, ia tak bisa pergi karena sakitnya kembali merajai tubuhnya. Ibu Ladira mengidap kanker kulit, Syl takkan pernah tahu. Syl takkan pernah peduli. Ibu Ladira bukan siapa-siapa untuknya.

Tengah malam ketukan pintu yang keras sekali menusuk rangu Ibu Ladira. Ia terkejut dan segera membukakan pintu.

"Syl belum pulang sudah dikunci. Memang ini rumah siapa, hah?" Syl membentak Ibu Ladira.

Pipi Syl basah, maskaranya luntur, rambutnya berantakkan tak karuan, tindakannya senonoh sekali. "Ibu Ladira tertidur, Syl. Lagi pula, sudah malam, kan?"

Syl nyengir, meledek. "Alasan saja. Jelas-jelas kau menikahi Ayahku karena harta beliau, bukan?"

Ibu Ladira tak bisa membendung air matanya, ia menangis sejadi-jadinya.

"Misi, aku mau tidur, lelah sekali. Pentasku berantakkan, itu semua karenamu, kau selalu mengganggu waktu latihanku."

Tak sedikit pun hati Syl tersentuh melihat Ibu Ladira menangis. Keesokan harinya, Syl hanya mendapati sepucuk surat di meja makan dengan sepiring nasi goreng serta kotak yang berukuran lumayan besar. Kotaknya cantik, Syl tak sabar ingin segera tahu apa isinya.

Syl tidak menghiraukan sepucuk surat itu, ia langsung menbuka kotaknya dengan perasaan penasaran setengah mati.

Amboi! Seru Syl dalam hati. Kotak musiknya cantik sekali, tepat seperti apa yang dijanjikan Ibu kandungnya dulu. Maka Syl segera mencari ponselnya untuk mengirim pesan singkat pada Jojo.

Tak perlu menunggu lama. Jojo membalas pesan singkatnya, "Aku belum membelikanmu hadiah ulang tahun, Syl."

Syl langsung mencari sepucuk surat yang tadi ia lempar langsung ke tempat sampah.

"Mbak, tempat sampahnya kok kosong?" tanya Syl kepada salah satu pembantu rumah tangga.

"Lah, jam segini kan pembuangan sampah, Non."

Lantas Syl mencari mobil sampah yang biasa mengangkut sampah di komplek rumahnya.

"Pak!" seru Syl, berlari.

Tapi mobil besar berantakkan dan berbau tak sedap itu malah terus melaju. Syl menghempaskan tubuhnya ke aspal jalanan, kelelahan.

Syl menyesal telah bertindak gegabah, membuang surat yang kelihatannya tak penting ke tempat sampah pagi tadi. Seharusnya, Syl membacanya dulu.

Akhirnya Syl kembali ke rumahnya. Tetapi di rumah sudah ramai, banyak tetangga datang dan mengucapkan belasungkawa. Bendera kuning tertancap di mana-mana, seakan Syl sudah pergi beberapa bulan silam. Mobil ambulan terparkir di depan rumah Syl.

"Ibu Ladira sudah tiada, Non."

Syl terkejut dan lari masuk menerobos siapa pun yang berada di jalannya. Ia menangis sejadi-jadinya, menyesali perbuatannya yang senonoh terhadap Ibu Ladira. Syl amat menyesal, andai Tuhan memberikan kehidupan kedua bagi Ibu Ladira, Syl akan menyayanginya sepenuh hati. Syl rindu sosok Ibu, Syl baru menyadarinya. Syl menggenggam erat kotak musik pemberian Ibu Ladira. Syl kehilangan sosok Ibu untuk kedua kalinya di ulang tahun yang ke-tujuh belas.



Syl mematung, tak memedulikan keadaan sekitarnya, walaupun orang-orang sedari tadi mencoba menenangkan Syl yang masih menangis pilu. Syl masih memeluk kotak musiknya itu.

Jasad Ibu Ladira sudah dikuburkan, bersama kepedihan yang ia alami di dunia ini, bersama kenangan terbaik dan buruknya yang ia toreh di dunia ini. Syl tidak bisa bertindak apa-apa selain menyesali hidupnya dan memutar kotak musik kapan pun ia rindu Ibu Ladira yang selalu berusaha mendapat perhatian darinya.

Syl memohon maaf kepada Ibu Ladira serta kedua orangtuanya dalam tiap doa yang ia panjatkan.

"Ibu Ladira dan kedua orangtuaku yang berada di surga sekarang. Syl berjanji akan menjadi anak baik dan berbakti kepada orangtua, siapa pun mereka, jika mereka ingin merawat dan menjaga Syl dengan baik sampai Syl sukses nanti, Syl akan menurut kepadanya. Syl berjanji."

Syl memutar kotak musiknya untuk ke sekian kalinya hari ini. Syl percaya, musik yang ia dengar sekarang, memang ditakdirkan untuk mengenang Ibu Ladira, iramanya yang syahdu membuat Syl teringat akan senyuman Ibu Ladira, menentramkan hati bagi siapa pun yang mendengar atau melihatnya.

Iramanya membuat Syl tenggelam dalam alam mimpi bersama kotak musik di pelukannya.

Hidup Ibu Ladira hanya untuk memberikan kotak musik cantik untuk Syl. Tuhan menciptakan Ibu Ladira untuk membuat Syl bahagia dengan kotak musik impiannya. Apakah semua orang diciptakan untuk membuat orang lain bahagia? Tidak juga. Tak jarang orang berdecak senang karena orang yang dibencinya meninggal dunia.

Tujuan hidup Ibu Ladira memang benar-benar hanya satu, yaitu memberi kotak musik impian Syl. Setelah itu, Ibu Ladira melepas semua beban hidupnya di dunia. Lalu ia menjadi salah satu bidadari surga yang akan selalu Syl banggakan.


queen

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar