Seperti tangkai mawar yang patah
Keindahannya tak lagi utuh
Tak lagi bisa berdiri tegak dan kukuh
Entah ingin berpijak di mana
Berdiri pun sudah tak mampu
Seperti hati yang hancur
Keindahannya tak lagi utuh
Tak lagi bisa berdilema dengan gemulai
Entah ingin berlabuh di mana
Terkadang sering salah tempat
Seperti cinta yang tak utuh
Keindahannya tak lagi terlukis
Tak lagi bisa bersandiwara dengan lihai
Entah ingin menjadi apa
Tak sedikit menjadi benci
Seperti bulan yang separuh
Keindahannya tak sempurna
Tak lagi bisa melingkar elok
Entah ingin mencari separuhnya ke mana
Terkadang awan hitam membuai sembilunya
Seperti apa-apa yang hancur
Keindahannya tak dapat terlukis
Tak lagi bisa menjadi pujaan insan
Entah ingin kembali utuh kapan
Terkadang malah mati
Queen Oktaviani
About Me
16 / in love with coffee and petrichor.
Popular Posts
Blog Archive
-
▼
2015
(23)
-
▼
Desember
(23)
- Seni
- Aku Kalut Sayang
- Sajak 02.00
- What's Love, then?
- Hampa
- Manusia yang Merugi
- Puisi untuk Alam
- Sajak Pagi Hari
- Senja, Hujan, Cinta dan Rindu
- Tak Seperti Mereka Bilang
- Sajak Berlebihan
- Mustahil
- Jikalah Judulnya Hilang
- Kau; Pecandu Hampa
- Dusta
- Sajak Seuntai
- Kotak Musik untuk Syl (cerpen)
- Kaukah?
- Tentang Saya
- Seperti Apa-apa yang Hancur
- Bayangmu
- Puan
- Kau Laksana
-
▼
Desember
(23)
Q. Diberdayakan oleh Blogger.
instagram.com/queenoktaviani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar